Sabtu, 15 November 2014

Tugas
Ilmu Budaya Dasar

Rangkuman Ilmu Budaya Dasar Bab VI Manusia dan Penderitaan





Disusun Oleh:

Jeffry (15214614)
Kelas: 1EA20

Fakultas Ekonomi
Jurusan Manajemen
Depok 2014


BAB 6
MANUSIA DAN PENDERITAAN

A.    PENGERTIAN PENDERITAAN
Penderitaan berasal dari kara derita , kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra yang artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan penderitaan itu dapat lahir atau batin atau lahir batin.
Baik dalam Al-quran maupun kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan yang di alami oleh manusia atau berisi peringatan bagi manusia akan adanya penderitaan. Tetapi umumnya manusia kurang memperhatikan peringatan tersebut,sehingga manusia mengalami penderitaan.

B.     SIKSAAN
Siksaan dapat di artikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat sisksaan yang di alami seseorang, timbulah penderitaan. Di dalam kitab suci diterangkan jenis dan ancaman siksaan yang di alami manusia di akhirat nanti, yaitu siksaan bagi orang-orang musyrik, syirik, dengki, menfitnah, mencuri, makan harta anak yatim dan sebagainya.

     Siksaan yang sifatnya psikis misalnya kebimbangan, kesepian dan ketakutan.

 Kebimbangan di alami oleh seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat menentukan      
pilihan mana yang akan di ambil.
Kesepian di alami seseorang merupakan rasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai.
 Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin.

Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain :
a.       Claustrophobia dan Agoraphobia: Claustrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup, Agoraphobia adalah ketakutan yang di sebabkan seseorang berada di tempat terbuka.
b.      Gamang merupakan ketakutan bila seseorang di tempat yang tinggi, Hal ini di sebabkan karena ia takut akibat berada pada tempat yang tinggi.
c.       Kegelapan merupakan suatu ketakutan sesseorang bila ia berada di tempat yang gelap.
d.      Kesakitan merupakan ketakutan yang di sebabkan oleh rasa sakit yang di alami.
e.       Kegagalan merupakan ketakutan dari seseorang di sebabkan karena merasa bahwa apa yang akan di jalankan mengalami kegagalan.

Ahli medis mempunyai pendapat yang berbeda-beda dan banyak penderita yang mempunyai  teori tentang asal mula dari ketakutan mereka. Kebanyakan phobia di mulai dengan suatu schock emosional atau suatu tekanan pada waktu tertentu.
     Ahli-ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus di temukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang.

C.    KEKALUTAN MENTAL
   Secara lebih sederhana kekalutan mental dapat di rumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.

            Gejala-gelaja permulaan bagi seseorang yang menglami kekalutan mental adalah :
a.      Nampak pada jiwa yang sering merasakan pusing, sesak nafas, demam, nyeri pada lambung
b.      Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
a. Gangguan kejiwaan Nampak dalam gejala-gejal kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohani
b. Usaha mempertahankan diri dengan cara negative, yaitu mundur atau lari.
c. Kekalutan yang merupakan titik patah  (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.
Sebab-sebab timbulnya  kekalutan mental, dapat banyak disebutkan antara lain sebagai berikut :
a.  Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna
b. Terjadinya konflik sosial budaya akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat.
c. Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.

Proses-proses kekalutan mental yang di alami oleh seseorang mendorong ke arah :
a. Positif : trauma (luka jiwa) yang di lami di jawab secara baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup.
b. Negatife : trauma yang di lami di perlarutkan atau di perturutkan,sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi. Bentuk frustasi antara lain :

1.   Agresif  berupa yang meluap-luap akibat emosi yang tidak terkendali dan dapan membahayakan orang lain.
2.   Regresif adalah kembali pada pola reaksi yang primitive atau ke kanak-kanakan (infatil).
3.   Fiksasi adalah peletakan atau pembatasan pada satu pola yang sama (tetap).
4.   Proyeksi merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negative pada orang lain.
5.    Identifikasi adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya
6.    Narsisme adalah self love yang berlebihan,sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior daripada orang lain.
7.    Autism adalah gejala menutup diri secara total dari dunia rill.
Penderita kekalutan mental banyak terdapat dalam lingkungan seperti :
1.    Kota-kota besar yang banyak memberi tantangan-tantangna hidup yang berat.
2.   Anak-anak muda usia yang tidak berhasil dalam mencapai apa yang di kehendaki atau di idam-idamkan.
3.     Wanita pada umumnya lebih mudah merasakan suatu masalah yang di bawanya kedalam hati atau perasaannya.
4.      Orang yang tidak beragama tidak memiliki keyakinan bahwa di atas dirinya ada kekuasaan yang lebih tinggi.
5.    Orang yang terlalu mengejar materi seperti pedagang dan pengusaha memiliki sifat ngoyo dalam memperoleh tujuan kegiatannya.

D.    PENDERITAAN DAN PERJUANGAN
Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekwensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan buak hanya untuk bahagia melainkan juga menderita, karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis.

E.     PENDERITAAN, MEDIA MASA DAN SENIMAN
Dalam modern sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu lebih besar hal ini telah di buktikan oleh kamajuan teknologi dan sebagainya menyejahterakan manusia dan sebagian lainya membuat manusia menderita.
Beberapaa sebab lainnya yang menimbulkan penderitaan manusia ialah kecelakaan, bencana alam, bencana perang dan lain-lain.
Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-paeristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian  masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati.

F.     PENDERITAAN DAN SEBAB-SEBABNYA
Apabila kita kelompokan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulah penderitaan, maka penderitaan manusia dapat di perinci sebagai berikut :
A.    Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesame manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitar.Penderitaan ini kadang di sebut nasi buruk. Nasib buruk ini dapat diperbaiki manusia supaya menjadi baik.
Karena perbuatan buruk anatara sesama manusia maka manusia lain menjadi menderita,misalnya :
1)       Pembantu rumah tangga yang di perkosa,di sekap,disiksa oleh majikannya.
2)   Perbuatan buruk orang tua Aric Hangara yang menganiyaya anak kandungnya sendiri sampai mengakibatkan kematian

B.     Penderitaan yang timbul karena penyakit,siksaan / azab Tuhan

         Beberapa kasus penderitaan dapat diungkapkan berikut ini :
1)    Seorang anak lelaki buta sejak dilahirkan dengan tabah di asuh oelh orang tuanya.
2)    Nabi ayub mengalami siksaan Tuhan, Tetapi dengan sabar ia meerima cobaan ini.
3)     Tenggelamnya Fir’aun di laut Merah seperti disebutkan dalam AL’QURAN adalah azab yang di jatuhkan kepada orang yang angkuh dan sombong.

G.    PENGARUH PENDERITAAN
   Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya, sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negative.
   Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan.




Studi Kasus
Bab VI Manusia dan Penderitaan
Hampir dua tahun kami sekeluarga menempati gubuk ini, melawan dinginnya angin malam dan terkadang harus bergeser saat tertidur pulas dimalam hari, apalagi ketika hujan datang karena balai kayu basah disebabkan atap rumah bocor bukan hal asing lagi kamirasakan, ujar Suherman suami Mariana dan ayah bagi tiga bocah sambil menunjukkan keadaan gubuknya kepada penulis.

Suherman mengaku sampai saat ini dia belum mampu memberikan rumah layak huni bagi keluarga, karena pekerjaannya yang hanya serabutan, sementara penghasilan  sehari tidak cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga, atau mungkin ini sudah menjadi takdir kami harus menjalani hidup seperti ini, ujarnya.

Dari pengamatan penulis, digubuk itu tinggal seorang bayi mungil yang harus menahankan dinginnya udara malam karena dinding tepas reot milik orang tua nya tidak mampu membendung semilir angin yang bertiup dimalam hari.

Menurut keterangan Unit Pelaksana Tekhnis Dinas (UPTD) Puskesmas Arlina Prihhesti.SKM. setelah lima hari persalinan, bayi mengalami masuk angin, mencret danlambungnya dipenuhi angin, dan sangat mungkin ini terjadi karena kondisi gubuk yang ditempati bayi sangat rawan angin karena dinding tepasnya bolong- bolong,  namun setelah ditangani Puskesmas yang teratur mengunjungi ibu dan bayi, kini kondisinya sudah berangsur membaik. kata Arlina.

Lebih mirisnya lagi Suherman sekeluarga tidak terdaftar sebagai penerima Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sehingga tidak ada jaminan untuk kesehatan ibu dan bayinya, pihak Puskesmas telah mendaftarkan Mariana menjadi peserta BPJS Langkat, untuk menjamin persalinannya, tetapi bagaimna dengan bayinya ? dan juga kedua anaknya yang lainnya ?”
 tanya Arlina.

Bahkan kedua abang kandung si bayi Rahmad Syahputra (12) dan M.Iqbal (10) yang juga menempati gubuk reot tersebut tidak sekolah karena orang tua nya tidak mampu membiayai sekolah apalagi dengan perlengkapan sekolah seperti sepatu, tas dan baju seragam, lengkap lah penderitaan keluarga prasejahtera yang  tertinggal / terlupakan / tidak diperhatikan Pemerintah maupun Perusahaan. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, masuk parit dan digigit anjing.

Hal ini diketahui dari penjelasan Lurah Bukit Jengkol Elsi Nuraini. Sos, ketika dihubungi penulis baru- baru ini melalui selularnya, saat itu dia mengatakan tidak mengetahui jika ada warga prasejahtera  menempati gubuk yang sangat tak layak untuk dikatakan kandang  binatang, apa lagi dihuni manusia, diwilayah Kelurahan Bukit Jengkol, Kecamatan Pangkalansusu, Kabupaten Langkat. padahal Suherman sekeluarga sudah hampir dua tahun berdomisili di Lingkungan sembilan, Kelurahan Bukit Jengkol.
Sebenarnya bukanlah tujuan penulis untuk mencari kesalahan masing-masing pihak, baik Pemerintahan maupun Perusahaan, dalam hal ini Domestik Region I Depot LPG Pangkalan Susu atau  Pertamina EP Pangkalan Susu yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari tempat tinggal keluarga Suherman.
Mungkin masih banyak Suherman - Suherman lain mengalami nasib sama dan tinggal dilingkungan Perusahaan diwilayah Kab. Langkat yang luput dari perhatian, tetapi sebagai sesama makhluk, sudah selayaknya kita bergandeng tangan saling membantu meringankan beban sesama,  ditambah lagi digubuk reot itu dihuni bayi yang sangat rawan kesehatan.

OPINI
Dari kasus diatas bisa dibilang begitu besar penderitaan yang dirasakan oleh keluarga Suherman, walaupun yang terlihat adalah penderitaan fisik berupa kemiskinan, akan tetapi penderitaan dari batin sang keluarga juga pasti ada. Memang benar adanya kalau penderitaan pasti pernah dirasakan oleh setiap orang, akan tetapi dalam kasus ini penderitaan yang keluarga Suherman rasakan begitu besar. Maka dari itu kita harus bisa menolong sesame kita selagi kita bisa dan mampu, karena ada kalanya bantuan kita sangat mengurangi penderitaan orang tersebut.

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/696606/1/menunggu-perhatian-dari-yang-perhatikan.html


0 komentar:

Posting Komentar